SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI BLOGKOSUTO

Senin, 16 Januari 2017

PENINGKATAN PRODUKTIFITAS TANAMAN PADI MELALUI TEKNIK BUDIDAYA PENGATURAN JARAK TANAM

PENINGKATAN PRODUKTIFITAS TANAMAN PADI MELALUI TEKNIK BUDIDAYA PENGATURAN JARAK TANAM








Oleh
SETYADI











KABUPATEN BANJARNEGARA
TAHUN 2014


A.   Latar Belakang
Berdasarkan data yang dirilis BPS, produksi padi sawah dari tahun ke tahun produktifitasnya cenderung stagnan. Peningkatannya masih kecil, bahkan sempat terjadi penurunan karena terkendala cuaca. Produksi nasional seakan-akan stagnan pada kirasan 5 ton GKG per Ha, tergolong masih rendah seperti tertuang dalam tabel berikut.
Tabel. Produktifitas Padi Sawah Nasional dan Jawa Tengah
No.
Tahun
Rata-rata Produktivitas Nasional (ton/Ha GKG)
Produktivitas Tertinggi (ton/Ha GKG)
Produktivitas Jawa Tengah (ton/Ha GKG)
1
2011
4,980

6,051
(DI Yogyakarta)
5,504

2
2012
5,136

6,744
(DI Yogyakarta)
5,835

3
2013
5,318

6,300
(DI Yogyakarta)
5,669

4
2014
5,289
6,218
(DI Yogyakarta)
5,412
                                                Sumber: BPS
Pemerintah terutama Departemen Pertanian harus lebih bekerja keras lagi untuk mencapai swasembada beras. Inovasi telah dilakukan dengan penelitian untuk mendapatkan bibit unggul berproduktivitas tinggi. Namun swasembada padi belum dapat tercapai lantaran masih banyak kendala di lapangan seperti cuaca ekstrem, penyediaan saprodi yang tidak tepat waktu, alih fungsi lahan, tata niaga padi sampai harga yang berfluktuatif. Tergerusnya nilai tukar petani mengakibatkan berkurangnya minat petani menanam padi. Belum lagi kebijakan pemerintah yang hanya bersifat sementara namun mengakibatkan masalah berkepanjangan. Misalnya begitu produktivitas turun maka solusi hanya satu yaitu impor beras. Kebijakan ini sebenarnya sementara namun dampaknya luas, petani yang baru menikmati harga pantas langsung menderita karena dihantam produk impor. Akibatnya petani malas menanam padi, mereka beralih pekerjaan atau memilih menanam hortikultura atau malah perkebunan jangka panjang dan mudah perawatan sebagai sambilan, sementara petaninya beralih profesi jadi buruh ke kota-kota besar. Hal ini mengakibatkan permasalahan turunnya produktivitas padi dan menimbulkan masalah baru di kota-kota tujuan.
Sadeli Suriapermana sebagai penemu Legowo, telah meneliti di Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi (Balitpa), telah dianugrahi penghargaan Satya Wira Karya no Kepres  no 088/TK/th 1998. Peneliti lain dilakukan Dr Sarlan Abdulrachman, penemu Si Jarwo, produksi padi menggunakan sistem jajar legowo meningkat 15 persen. Namun di Jambi, hasil panen padi menggunakan sistem jajar legowo malah dapat mencapai 100 persen. Sejak sistem jajar legowo (Si Jarwo) diteliti tahun 2000, kini telah menuai hasil di berbagai daerah. Bahkan, hasil panen di lapangan seringkali lebih tinggi daripada percobaan yang dilakukan di demplot. Sistem jajar legowo yang sudah rekomendasi dari Departemen Pertanian dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm baru mampu menaikkan produktifitas sebesar 15% dibandingkan tanpa jajar legowo.
Atas pertimbangan tersebut, peneliti ingin ikut mengembangkan sejak mengenal jajar legowo di tahun 1994-an untuk dapat meningkatkan produktifitas padi sawah dengan berbagai kemungkinan variabel. Baru tahun 2005-an diteliti sistem budidaya yang dapat mengoptimalkan sistem tersebut. Hasil yang diperoleh dengan rekomendasi Departemen Pertanian, penanaman dengan jajar legowo 51 berjarak tanam 25 cm x 25 cm baru meningkatkan produktifitas sebesar 14%.
Tahun 2010-an peneliti menggunakan sistem jajar legowo dengan pengaturan jarak tanam, dengan dasar pemikiran bahwa rata-rata panjang akar tanaman padi sawah adalah 23 cm, maka idealnya jarak tanaman padi sawah adalah 46 cm dengan asumsi bahwa tanaman akan berbagi makanan secara optimal, sehingga akan menghasilkan produksi secara maksimal juga. Maka disusunlah penelitian dengan variabel bebas jarak tanam mulai 25 cm x 25 cm, 28 cm x 28 cm, 32 cm x 32 cm dan terakhir dengan jarak tanam 35 cm x 35 cm dengan jajar legowo 51. Artinya setiap 5 baris tanaman terdapat sela 1 baris tanpa tanaman.

B.   Maksud dan Tujuan
Maksud penelitian adalah meningkatkan produktifitas tanaman padi sawah di Desa Purwareja Kecamatan Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara, dengan mengembangkan sistem jajar legowo yang sudah ada.
Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan produktifitas padi sawah melalui sistem jajar legowo dengan pengaturan jarak tanam, dan menentukan managemen budidaya tanaman padi yang tepat agar produktifitasnya optimal.

C.   Manfaat.
Penelitian ini diharapkan dapat merubah managemen budidaya tanaman padi sehingga terjadi peningkatan produktivitas yang signifikan. Dengan keberhasilan penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi masyarakat luas sehingga mampu meningkatkan produktifitas padi sawah secara nasional, sehingga dapat menjamin ketersedian pangan secara swasembada.
Manfaat dari pengembangan sistem jajar legowo 51 dengan jarak tanam 35 cm x 35 cm telah digunakan di hampir seluruh Kecamatan Purwareja Klampok yang meliputi 8 desa, hasil produktifitasnya rata-rata sama dalam keadaan normal mencapai 7 ton/ha GKG untuk varietas situbagendit atau sekitar 30% di atas rata-rata nasional yang hanya 5,289 ton/ha GKG di tahun 2014. Petani menggunakan sistem ini karena dari pengamatan sendiri dan pembicaraan mulut ke mulut, namun menggunakan jarak tanam 28 cm x 28 cm atau 30 cm x 30 cm. Karena merasakan manfaat tersebut maka tanpa disuruh petugas, sekarang petani di daerah sekitar peneliti menggunakan sistem ini. Dari hasil pemantauan peneliti, dari semua jenis varietas akan mampu meningkatkan produktifitas 50%-60% dibanding sistem lama. Bahkan sekarang menjadi gerakan massal penanaman jajar legowo tingkat kabupaten.

D.   Spesifikasi Teknik
Menurut Dinas Pertanian, budidaya tanaman padi dimulai dari seleksi bibit. Untuk mendapatkan kualitas dan hasil panen yang baik, bibit yang dipilih harus bibit yang baik dan bagus. Dilanjutkan dengan menyemai bibit, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik perlu menentukan media tanam bibit atau persemaian bibit. Pengolahan lahan/sawah, dilakukan selagi menunggu bibit sampai berumur 21 hari atau lebih lahan tempat tanam sudah harus dibereskan atau digarap sedemikian rupa sehingga nanti setelah benih siap tanam tidak terjadi kendala. Setelah lahan siap tanam, maka bibit yang sudah berumur 21 hari siap di pindahkan ke lahan tanam. Jarak tanam dengan ukuran 20 cm x 20 cm atau 25 cm x 25 cm bisa dengan jajar legowo atau tanpa jajar legowo. Dilanjutkan pemupukan dengan dosis 150 kg urea pada usia 1 minggu, dan pada umur 30 hari dipupuk kedua dengan dosis 250 kg NPK setelah dilakukan penyiangan. Lakukan penyemrotan jika ada rekomendasi dari dinas pertanian bila ada serangan hama. Pengaturan air juga mutlak dilakukan karena tanaman padi butuh air. Lakukan pengeringan jika padi mulai menguning. Lakukan pemanen jika padi telah tua, dengan mesin perontok padi untuk mengurangi kehilangan gabah di sawah.
Berikut teknik budidaya tanaman padi sawah agar dapat menghasilkan hasil panen yang maksimal, sesuai hasil penelitian.
1.   Seleksi bibit
Untuk mendapatkan kualitas dan hasil panen yang baik, bibit yang dipilih harus bibit yang baik dan bagus. Langkah penyeleksian ini adalah sebagai berikut:
a.    Umur padi calon bibit di ambil yang betul-betul sudah matang dan tua.
b.    Masukkan air kedalam bejana seleksi dan tambahkan garam secukupnya.
c.    Masukkan telur bebek kedalam air garam tadi. tunggu sampai telur bebek mengapung.
d.    Kemudian baru masukkan bibit yang sudah diseleksi tadi kedalam air garam tersebut.
e.    Beberapa diantara bibit tadi ada yang mengapung, kemudian dibuang.
f.     Bibit yang tenggelam saja yang dijadikan bibit.
2.   Menyemai bibit
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik perlu menentukan media tanam bibit atau persemaian bibit. Untuk persemaian bibit perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:
  1. Tanah yang diambil untuk menyemai bibit harus tanah yang lebih baik dan bagus.
  2. Untuk menyemai bisa kita pakai baki, bejana yang luas dan datar, atau dibuatkan dari papan yang beralaskan plastik.
  3. Campur tanah yang sudah dipilih dengan pupuk kompos atau pupuk kandang
  4. Jika di lahan sawah, ratakan tanah, tinggikan tanah dengan sistem buludan.
  5. Taburkan bibit yang sudah diseleksi dimedia semai.
  6. Jaga kelembaban semaian benih.
  7. Tunggu sampai benih berumur 5 hari.
  8. Berikan pupuk kimia agar cepat tumbuh tinggi.
3.   Pengolahan Lahan/Sawah.
Sementara kita menunggu bibit sampai berumur 21 hari atau lebih lahan tempat tanam sudah harus dibereskan atau digarap sedemikian rupa sehingga nanti setelah benih siap tanam tidak terjadi kendala. Untuk pengolahan lahan tersebut sebagai berikut:
  1. Sawah yang sudah selesai dipanen jerami atau daun padi bekas panen hendaknya jangan dibakar atau dibuang biarkan lapuk di sawah (lahan) karena ini bisa dijadikan kompos.
  2. Lahan sudah dibajak diratakan dan dipetak-petak agar kita lebih mudah mengontrol airnya.
  3. Lahan diratakan dan usahakan air sawah itu hanya berada di petak artinya air lahan macak-macak.
  4. Buat selokan kecil di pinggir pematang selebar ± 15 cm untuk mengurangi serangan keong mas, sehingga tidak menyerang tanaman lain. Sehingga mudah mengambil keong mas, atau kalau terjadi serangan hebat maka hanya tanaman pinggir yang perlu disulami.
  5. Garislah lahan dengan ukuran jarak garis 35 cm x 35 cm.
  6. Dua hari sebelum tanam lahan di taburi pupuk sebaiknya pupuk yang dipakai adalah pupuk organik, tergantung kemampuan petani.
4.   Cara Tanam
Setelah lahan siap tanam, maka bibit yang sudah berumur 21 hari siap di pindahkan ke lahan tanam. Untuk menanam padi caranya sebagai berikut:
  1. Untuk bibit dibuludan dengan cara dicabut secara hati-hati agar akar tidak banyak yang tercabut.
  2. Tanam benih di lahan dengan jarak tanam 35 cm x 35 cm sistem jajar legowo 51 dengan alat penggaris dan diisi sebanyak 2 sampai 3 batang per lubang.





  1. Menanam benih jangan sampai dibenam terlalu dalam seperti menanam benih ala konvensional.
  2. Jaga lahan jangan sampai digenang air terlalu banyak.
5.   Perawatan
Untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal harus dilakukan perawatan yang intensif. Dan perawatan yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan perawatan tanam padi yang sering dilakukan para petani. Beberapa langkah perawatan yang perlu dilakukan adalah;
a.    Setelah penanaman selama 3 hari usahakan jangan tergenang air tapi tanah basah.
b.    Setelah padi berumur 5 hari setelah tanam, pupuk dengan pupuk urea dan organik dengan dosis 150 kg urea per Ha (untuk pupuk organik diserahkan kepada masing-masing kemampuan petani) dengan cara ditabur.
c.    Sulami tanaman yang mati dan beri air macak-macak dengan 4 hari kering 3 hari basah.
d.    Umur 20 hari tanam disiangi kemudian dipupuk urea dan NPK dengan dosis 150 kg urea per Ha dicampur 100 kg NPK per Ha dengan cara diberikan per tanaman dengan jarak 5 cm dari tanaman dengan tenaga 3 orang selama 1 hari per Ha.. Atau dosis 150 kg urea dan 150 NPK dengan cara ditambur.
e.    Umur 25 hari setelah tanam ketinggian air bisa ditambah, tapi tetap 4 hari kering 3 hari basah.
f.     Umur 40 hari ulangi pemupukan dengan menyemprot pupuk cair dengan kadar N yang tinggi atau pupuk daun.
g.    Lakukan  penyemprotan jika ada hama atau penyakit dengan petunjuk yang ada. Waspadai hama wereng, sundep/penggerek batang, kresek-Xantomonas di musim penghujan.
h.    Umur 50 hari kembali lagi disemprot dengan pupuk buah untuk pembuahan.
i.     Pertumbuhan padi yang baik dan bagus adalah untuk satu rumpun menghasilkan 20 sampai dengan 30 batang padi.
j.     Umur 60 hari kembali lagi disemprot dengan pupuk buah untuk pembuahan.
k.    Setelah usia 2 bulan genangilah air sawah agar pertumbuhan anak padi tidak bertambah, karena dapat mengurangi hasil panen.
l.     Perlu pengontrolan yang ketat akan hama dan penyakit, karena pada usia setelah 2 bulan sangat rentan terhadap hama dan penyakit.
m.  Jaga air tetap tinggi dengan 4 hari kering 3 hari basah sampai bulir padi merunduk.
n.    Setelah malai keluar satu dua tanaman segera semprot dengan fungisida, dan peptisida jika ada hama.
o.    Setelah bulir padi mulai merunduk, air mulai dikurangi sampai kering menjelang 10 hari akan panen.
6.   Pemanenan
Pemanenan merupakan tahapan yang paling penting bagi petani, untuk itu perhatikan hal berikut:
  1. Usahakan panen jangan terlalu tua, jika bulir paling bawah telah kuning dan keras segera lakukan pemanenan.
  2. Pemotongan padi saat panen jangan terlalu pagi, sehingga tidak terlalu basah.
  3. Gunakan mesin pemanen (power thresser) untuk mengurangi bulir padi yang hilang saat panen.

E.   Keunggulan
1.     Produktifitas
Kondisi awal sebelum penelitian tindakan dilakukan hasil observasi didapatkan data seperti dalam tabel berikut.
Tabel. Kondsi sebelum penelitian
No.
Deskripsi
Produktivitas per 1/7 Ha (Ku GKG)
Produktivitas per Ha (Ton GKG)
1
Jarak tanam 25 cm tanpa jajar legowo
7
4,9
Hasil penelitian dari pengaturan jarak tanam terhadap produktifitas padi sawah dapat dilihat pada data yang ditunjukkan pada tabel berikut:









Tabel. Produktifitas Padi Rata-Rata (GKG) Berbagai Ukuran
No
Deskripsi

Produktivitas per 1/7 Ha (Ku GKG)
Produktivitas per Ha (Ton GKG)
Prosentase Peningkatan
1
Jarak tanam 25 cm tanpa jajar legowo
7
4,9
0
2
Jarak tanam 25 cm dengan jajar legowo 51*)
8
5,6
14
3
Jarak tanam 28 cm dengan jajar legowo 51*)
9,5
6,65
35,7
4
Jarak tanam 32 cm dengan jajar legowo 51*)
10,5
7,35
50
5
Jarak tanam 35 cm dengan jajar legowo 51*)
11,2
7,84
60
Catatan:
*) Jajar legowo 51 artinya setiap 5 baris tanaman baris ke enam kosong 1 baris demikian terus berulang.
Dengan jarak tanam 35 cm x 35 cm jajar legowo 51 meningkatkan jumlah batang per rumpun rata-rata mencapai 40 batang. Jumlah anakan produktif per rumpun meningkat mencapai rata-rata 35 batang dengan rata-rata anakan tidak produktif 5 batang. Berikut disajikan tabel jumlah anakan produktif.
Tabel. Jumlah Anakan Produktif Berbagai Ukuran
No
Deskripsi
Jumlah rata-rata batang per rumpun
Jumlah rata-rata anakan produktif
Prosentase Peningkatan
1
Jarak tanam 25 cm tanpa jajar legowo
15
12
0
2
Jarak tanam 25 cm dengan jajar legowo 51*)
15
13
8,33
3
Jarak tanam 28 cm dengan jajar legowo 51*)
20
18
50
4
Jarak tanam 32 cm dengan jajar legowo 51*)
30
27
125
5
Jarak tanam 35 cm dengan jajar legowo 51*)
40
35
191,67

Banyaknya rumpun pada lahan per 1/7 hektar terlihat bahwa ukuran 25 cm x 25 cm paling banyak, tetapi jumlah batang menunjukkan paling sedikit. Berikut tabel banyaknya rumpun dalam lahan penelitian.
Tabel. Jumlah batang produktif per 1/7 Ha
No
Deskripsi
Jumlah rata-rata rumpun per 1/7 Ha
Jumlah rata-batang produktif per 1/7 Ha
Prosentase peningkatan
1
Jarak tanam 25 cm tanpa jajar legowo (sebelum)
    22.400

  268.800

0
2
Jarak tanam 25 cm dengan jajar legowo 51*)
    26.600

  345.800

28,65
3
Jarak tanam 28 cm dengan jajar legowo 51*)
    17.857

  321.426

19,58
4
Jarak tanam 32 cm dengan jajar legowo 51*)
    13.672

  369.144

37,33
5
Jarak tanam 35 cm dengan jajar legowo 51*)
    11.429

  400.015

48,82
Dengan asumsi rata-rata per malai terdapat 100 butir akan terlihat hasil produktifitas yang signifikan pada jarak tanam 35 cm x 35 cm jajar legowo 51. Berikut tabel jumlah butir dari berbagai ukuran jarak tanam.





Tabel. Jumlah butir per 1/7 Ha
No
Deskripsi
Jumlah batang produktif
Jumlah rata-rata butir
Prosentase peningkatan
1
Jarak tanam 25 cm tanpa jajar legowo (sebelum)
  268.800

26.880.000
0
2
Jarak tanam 25 cm dengan jajar legowo 51*)
  345.800

34.580.000
28,65
3
Jarak tanam 28 cm dengan jajar legowo 51*)
  321.426

32.142.600
19,58
4
Jarak tanam 32 cm dengan jajar legowo 51*)
  369.144

36.914.400
37,33
5
Jarak tanam 35 cm dengan jajar legowo 51*)
  400.015

40.001.500
48,82

Dengan asumsi bahwa setiap 1000 butir padi mempunyai massa 28 gram maka terlihat peningkatan yang signifikan pada penelitian tindakan yang keempat yaitu berupa pola tanam jarak 35 cm x 35 cm sistem jajar legowo 51.
Tabel. Produktifitas per 1/7 Ha
No.
Deskripsi
Jumlah rata-rata butir
Produktifitas per 1/7 Ha (kg)
Prosentase peningkatan produksi
1
Jarak tanam 25 cm tanpa jajar legowo (sebelum)
26.880.000
752,64
0
2
Jarak tanam 25 cm dengan jajar legowo 51*)
34.580.000
968,24
28,65
3
Jarak tanam 28 cm dengan jajar legowo 51*)
32.142.600
899,99
19,58
4
Jarak tanam 32 cm dengan jajar legowo 51*)
36.914.400
1.033,6
37,33
5
Jarak tanam 35 cm dengan jajar legowo 51*)
40.001.500
1.120,04
48,82

Terlihat bahwa terjadi peningkatan produktifitas riil hasil penelitian seperti tabel mencapai 60% dibandingkan sebelum penelitian tindakan. Sedangkan dengan analisis perhitungan berdasarkan asumsi-asumsi yang diberikan dinas pertanian terjadi peningkatan sebesar 48,82%. Disini terjadi selisih 11,18%, hal bisa terjadi karena asumsi rata-rata per malai 100 butir dan asumsi tiap 1000 butir bermassa 28 gram. Karena riilnya terjadi peningkatan mencapai 60% maka asumsi  itu mungkin sudah tidak sesuai, artinya untuk varietas situbagendit rata-rata per 1000 butir tidak 28 gram namun lebih dari 28 gram. Atau jumlah butir per mlai lebih dari 100 butir hal terlihat dari hasil penelitian bahwa panjang malai dalam satu rumpun terlihat seragam.
2.     Keunggulan
Pada penelitian ini dilakukan pengukuran tanaman padi dewasa panjang akar rata-rata 23 cm. Dengan dasar pemikiran bahwa tanaman akan tumbuh kembang baik jika akar tanaman dapat mengambil hara tanah tanpa berebut dengan tanaman lain, maka dilakukan penelitian meningkatkan produktivitas tanaman padi dengan pengaturan jarak tanam yang tepat. Penelitian menggunakan varietas situbagendit dalam lahan yang sama selama 3 tahun. Produktivitas hasil dilakukan riil tanpa sistem ubinan. Hasilnya terjadi produktivitas meningkat secara signifikan. Hasil sebelum menggunakan sistem ini adalah 7 kuintal sedangkan dengan sistem jarak 35 cm hasilnya menjadi 11,2 kuintal sehingga terjadi peningkatan sebesar 4,2 kuintal atau 60%
Dalam pengaplikasikan di lahan 1 Ha yang riil dihasilkan 6,8 ton GKG tanpa menggunakan sistem ubinan, karena terkendala kekurangan air sejak mulai keluar malai. Namun dapat terlihat saat pemanenan bahwa jumlah gabah banyak yang hampa bagian bawah malai karena kekurangan air. Diperkirakan jika dalam kondisi normal akan menghasilkan 7,5 ton GKG
3.     Keunggulan dibanding dengan sistem lain
a.  Jumlah rumpun sedikit namun jumlah batang per rumpun dapat banyak, per m2 dapat mencapai 800 batang. Dengan batang yang tidak produktif 48 batang, sehingga terdapat 752 batang produktif.
b.  Jumlah malai yang panjang lebih banyak. Panjang malai hampir seragam anatar induk dan anakan sehingga jumlah butir per malai hampir seragam.
c.   Lebih hemat bibit tanaman.
d.  Lebih hemat pupuk.
e.  Potensi hasil sangat baik, jika per m2 terdapat 752 batang produktif dengan jumlah 100 bulir per malai maka akan ada 75200 bulir padi, atau 2105,6 gram jika dibulatkan 2,1 kilogram padi. Jika 1 Ha berarti akan dihasilkan 21000 kilogram atau 21 ton GKP per Ha, atau setara 15,75 ton GKG per Ha. Jika asumsi kehilangan pasca panen 20% maka akan didapat hasil panen 12,6 ton GKG.
4.     Keunggulan dibandingkan teknik penanaman padi sistem konvensional
Pada sistem konvensional banyak batang tidak produktif bisa mencapai 28 %, sehingga jumlah batang produktif hanya 500 per m2. Sistem konvensional memerlukan banyak bibit karena bibit 5-6 batang per lubang, juga banyak pupuk yang hilang karena kurang tepat dosis sehingga banyak yang menguap dan tercuci. Produktivitas rendah 4,9 ton GKG per Ha, karena malai panjang hanya 5-6 batang dan 15 batang bermalai pendek.

5.     Keunggulan dibandingkan teknik penanaman padi sistem jajar legowo biasa
Pada sistem jajar legowo biasa (Dinas Pertanian) dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm atau 25 cm x 25 cm masih banyak batang yang tidak produktif. Bibit yang diperlukan lebih banyak. Jajar legowo yang terbaik dengan 31. Produktivitas sistem jajar legowo mampu meningkatkan 14,29 %, walaupun jumlah rumpum per m2 sudah meningkat dan menghemat pupuk.
6.     Keunggulan dibandingkan teknik penanaman padi sistem SRI
Pada sistem SRI menanam pada umur 10 hari sangat rentan serangan hama seperti keong mas, belalang, atau serangga perusak akar tanaman (Jawa: orong-orong). Apalagi jika serangan berat, tanaman hanya mampu bertahan 1 hari 1 malam. Biaya tanam sistem ini cukup mahal bisa mencapai 2 kali tanam biasa. Bibit bisa lebih hemat. Pemupukan relatif sama. Hasil produktivitasnya mampu meningkatkan sekitar 20 %.

F.    Penerapan pada Masyarakat dan dunia industri.
Selain diterapkan oleh petani di desa Purwareja juga telah diterapkan di desa lain. Hasil penelitian telah diterapkan masyarakat di desa Susukan Kecamatan Susukan dengan jarak tanam 34 cm tanpa jajar legowo dengan produktivitas 7 ton GKG per Ha untuk varietas ketan ketonggo. Beberapa kecamatan sekarang gencar aplikasi tidak langsung ukuran 35 cm x 35 cm tapi bertahap mulai ukuran 28 cm x 28 cm terlebih dahulu. Baru musim tanam berikutnya berani menambah jarak tanam, setelah merasakan peningkatan hasil yang signifikan. Dari hasil pemantauan didapatkan, jumlah batang rata-rata 45 batang per rumpun, dengan 3-5 batang tidak produktif. Padahal varietas ketan biasanya produktivitasnya lebih rendah dibanding varietas padi biasa. Rendemen dari panen juga baik sekitar 68, artinya dari 100 kg GKG dihasilkan beras 68 kg.
1.     Kendala
Pemupukan diharapkan tepat waktu, namun penyediaan pupuk menjadi kendala paling utama karena sering terjadi saat petani membutuhkan pupuk sulit didapatkan. Jika pemupukan terlambat maka jumlah anakan dalam rumpun akan berkurang. Kendala berikutnya adalah semakin banyaknya jenis hama dan penyakit. Serangan hama penggerek batang dapat mengurangi produksi sampai 25%, sedangkan hama kresek atau Xantomonas dapat mengurangi 20%. Serangan hama wereng dapat mengurangi sampai 50%. Cuaca juga merupakan kendala yang sulit dihadapi para petani.
2.     Budaya
Kendala tersulit adalah kurangnya kepercayaan masyarakat atas hasil penelitian, sehingga butuh waktu terlalu lama untuk mengikuti hasil penelitian dan pengembangan teknologi.

G.   Prospek Pengembangan
Perlu dikembangkan penelitian tindakan dengan sistem jajar legowo jarak tanam 40 cm atau 45 cm dengan asumsi bahwa panjang akar 23 cm maka akan tumbuh kembang optimal pada jarak tanam 2 x 23 cm atau 46 cm. Sedang diujicoba juga untuk berbagai varietas. Jika sistem ini bisa berjalan maka swasembada beras akan segera tercapai, akan meningkatkan ketahanan pangan yang pada gilirannya akan memperkuat ketahanan nasional.
Jika produksi berlebih dapat disimpan untuk cadangan menghadapi perubahan iklim yang sudah mulai nyata dampaknya. Perlu managemen penyimpanan yang baik. Dengan meningkatnya bencana hidrometrologi maka musim tanam I awal tahun pada musim hujan maka diharapkan dapat tertutup produktivitas pada musim tanam II pada musim kemarau. Maka memunculkan prospek untuk penelitian managemen stok. Perlu penelitian agar gabah atau beras dapat disimpan lebih lama dengan kualitas yang tetap terjaga baik.
Belum lagi sekarang pemerintah mulai gencar menerapkan hasil-hasil penelitian untuk disebarluaskan ke masyarakat maupun dunia industri, diharapkan akan memunculkan budaya melek penelitian. Tidak perlu menunggu waktu lama, masyarakat akan tertarik menggunakan teknologi baru. Dengan terciptanya budaya masyarakat akan penerapan teknologi, maka akan memicu masyarakat juga ikut mencoba melaksanakan penelitian sederhana (trial and error). Memunculkan prospek masyarakat suka meneliti.
Tidak lupa peran petugas di lapangan yang menjadi ujung tombak pemerintah, segera berbenah diri untuk mengembangkan diri. Sering terjun ke lapangan maka akan menambah kepercayaan diri untuk berhadapan dengan petani. Sehingga akan menimbulkan kepercayaan masyarakat terhadap petugas. Dengan demikian maka penyebaran informasi teknologi akan segera dapat dirasakan oleh kalangan petani. Memunculkan prospek untuk saling percaya antar komponen atau pihak yang terlibat (stakeholder).




Description: D:\jajar legowo 41.jpgDescription: D:\gurat.JPGLAMPIRAN

Description: DSC06630Description: tandur          Alat penggaris                  Sistem jajar legowo (Dinas Pertanian)
                   
Menanam padi                            tanaman berjarak 35 cm             


BIO DATA PESERTA


Nama                                        : Setyadi
Tempat, tanggal lahir                  : Jakarta, 08 Nopember 1967
Jenis Kelamin                                       : Laki-laki
Prestasi yang pernah diperoleh    :
1.  Juara 2 Guru Teladan tingkat Kabupaten
2.  Penerima Sains Education Award
3.  Simposium Nasional Keberhasilan Dalam Pembelajaran.
4.  Simposium Nasional Olimpiade Sains
5.  Mengikuti Pameran International Nagoya, Jepang
6.  Juara harapan 1 Krenova tingkat Kabupaten
7.  Juara III Krenova tingkat Kabupaten
Alamat rumah                            : Purwareja RT 04 RW X Kec. Purwareja Klampok Kab. Banjarnegara
No. HP                                      : 089655906962
E-mail                                       : adiblokosuto@gmail.com


Powered By Blogger